DISUSUN OLEH :
NANDA NOVITASARI
KESEHATAN REPRODUKSI
STIKES SURYA GLOBAL YOGYAKARTA
Kata Pengantar
Puji Syukur saya panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan saya kesehatan dan kesempatan untuk membuat makalah ini, untuk melengkapi
tugas mengenai Observasi.
Allhamdulillah pada saat ini saya dapat
mengumpulkan tugas ini sesuai dengan tugas yang diberikan. Makalah
ini berisikan tentang LAPORAN HASIL OBSERVASI di Lingkungan terutama tentang Pencemaran Air Sungai
di Daerah Martapura OKU TIMUR Sumatera Selatan.
Sekilas tentang makalah ini berisikan
Hasil observasi di lingkungan saya sendiri untuk dibandingkan dan digolongkan
kedalam kriteria yang baik atau buruk ataupun diantara keduanya.Untuk lebih
jelasnya silakan lihat isinya. Dengan adannya makalah ini, saya harapkan dapat
melengkapi materi yang sudah ada. Dan saya berharap pula dengan adanya tugas
ini dapat meningkatkan kreativitas Mahasiswa dan Mahasiswi Stikes Surya Global Yogyakarta.
Terimakasih.
Penulis,
BAB I
PENDAHULUAN
A. PROFIL DESA
1. Geografi
Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur
merupakan satu dari 15 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Sumatera Selatan,
dengan luas wilayah 3.370 km2. Dilihat dari sisi geografisnya kabupaten ini
terletak antara 103o40’ Bujur Timur sampai dengan 104o33’
Bujur Timur dan antara 3o45’ sampai dengan 4o55’
Lintang Selatan Luas wilayah Pemerintahan Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur
yang beribukota Martapura meliputi 20 Kecamatan, 7 Kelurahan, 286 Desa (hingga
akhir 2013). Adapun luas wilayah kabupaten OKU TIMUR berdasarkan kecamatan
adalah sebagai berikut :
|
Nama Kecamatan
1. Martapura
2. Bunga Mayang
3. Jaya Pura
4. B.P. Peliung
5. Buay Madang
6. Buay Madang Timur
7. B.P. Bangsa Raja
8. Madang Suku II
9. Madang Suku III
10. Madang Suku I
11. Belitang Mdg Raya
12. Belitang I
13. Belitang Jaya
14. Belitang III
15. Belitang II
16. Belitang Mulya
17. Semendawai Suku III
18. Semendawai Timur
19. Cempaka
20. Semendawai Barat
|
Luas (km2)
102,16
113,54
230,17
154,13
114,36
156,25
192,95
129,34
195,32
211,25
163,59
354,50
91,97
153,87
153,59
45,97
297,77
183,27
101,00
225,00
|
Persentase (%)
3,03
3,37
6,83
4,57
3,39
4,64
5,73
3,84
5,79
6,27
4,85
10,53
2,73
4,56
4,56
1,36
8,83
5,44
3,00
6,68
|
2. Demografi
Berdasarkan hasil pencacahan Sensus
Penduduk 2010 (angka sementara), jumlah penduduk Kabupaten OKU Timur adalah
609.715 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 312.147 jiwa dan perempuan 297.568
jiwa. Hasil ini menunjukkan bahwa penduduk laki-laki di OKU Timur lebih banyak
dibandingkan dengan penduduk perempuan yakni 55.617 jiwa. Dapat dilihat pada
tabel di bawah ini :
|
No
|
Kecamatan
|
Jumlah Penduduk
|
Luas Daerah
(Km²)
|
Kepadatan (Jiwa/Km²)
|
|
1
|
Martapura
|
50.095
|
102,16
|
261
|
|
2
|
Bunga Mayang
|
16.481
|
113,54
|
85
|
|
3
|
Jaya Pura
|
12.103
|
230,17
|
76
|
|
4
|
Buay Pemuka Peliung
|
32.793
|
154,13
|
196
|
|
5
|
Buay Madang
|
37.133
|
114,36
|
460
|
|
6
|
Buay Madang Timur
|
55.617
|
156,25
|
390
|
|
7
|
Buay Pemuka Bangsa Raja
|
11.502
|
192,95
|
111
|
|
8
|
Madang Suku II
|
29.679
|
129,34
|
122
|
|
9
|
Madang Suku III
|
24.630
|
195,32
|
147
|
|
10
|
Madang Suku I
|
35.395
|
211,25
|
154
|
|
11
|
Belitang Madang Raya
|
42.491
|
163,59
|
617
|
|
12
|
Belitang I
|
52.557
|
354,50
|
283
|
|
13
|
Belitang Jaya
|
18.942
|
91,97
|
152
|
|
14
|
Belitang III
|
34.284
|
153,87
|
313
|
|
15
|
Belitang II
|
41.357
|
153,59
|
722
|
|
16
|
Belitang Mulya
|
20.659
|
45,97
|
156
|
|
17
|
Semendawai Suku III
|
38.335
|
297,77
|
176
|
|
18
|
Semendawai Timur
|
34.021
|
183,27
|
245
|
|
19
|
Cempaka
|
26.288
|
101,00
|
89
|
|
20
|
Semendawai Barat
|
20.338
|
225,00
|
51
|
|
JUMLAH
|
634.700
|
|
186
|
|
B. Latar Belakang
Observasi
merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dalam mengetahui berbagai hal.
Dalam hal ini kami akan melakukan observasi tentang pencemaran air sungai
sebagai salah satu tugas yang diberikan oleh Dosen dan penglihatan saya
mengenai pencemaran air sungai yang makin tercemar. Manusia dalam kehidupannya
memiliki 7 kebutuhan dasar yang akan dipenuhi. Menurut Maslow, kebutuhan yang
paling dasar ialah kebutuhan fisiologis. Ada 3 hal yang harus dipenuhi dalam
kebutuhan fisiologis yaitu kebutuhan sandang, pangan dan papan. Salah satu komponen
yang termasuk dalam 3 kebutuhan tersebut ialah kebutuhan akan air. Air
diperlukan dalam berbagai hal, seperti irigasi, mandi, minum, mencuci dan
memasak. Manusia mendapatkan air dari berbagai sumber salah satunya ialah
melalui sungai. Air sungai banyak digunakan dalam kehidupan masyarakat, baik
yang berada di kota maupun masyarakat di pedesaan.
Pentingnya
sungai bagi kehidupan sehari-hari sayangnya tidak membuat manusia turut menjaga
kelestarian sungai. Sampah-sampah dibuang ke sungai dengan seenaknya tanpa
memperdulikan kehidupan biota yang ada di dalamnya. Selain sampah, manusia juga
membuang limbah ke dalam sungai. Limbah tersebut biasanya berasal dari pabrik
yang berada dekat dengan sungai
Air
yang kita gunakan seharusnya berstandar 3B, tidak berwarna, berbau dan beracun.
Tetapi, banyak kami lihat air yang berwarna keruh dan berbau. Dan sering kali
bercampur dengan benda-benda sampah seperti, plastik,sampah organik,kotoran
manusia,botol-botol dan sebagainya. Keadaan seperti ini dapat menyebabkan
dampak negatif bagi masyarat, dan dari situlah kami sebagai Mahasiswi Jurusan Kesehatan Masyarakat dan juga sebagai
komponen masyarakat, ingin membantu masyarakat untuk menjaga kesehatan baik
fisik maupun lingkungan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Kesehatan Masyarakat
Kesehatan
masyarakat didefinisikan oleh Winslow pada tahun 1920 sebagai ilmu dan kiat (art)
untuk mencegah penyakit, memperpanjang harapan hidup, dan meningkatkan
kesehatan dan efisiensi masyarakat melalui usaha masyarakat yang terorganisir
untuk sanitasi lingkungan, pengendalian penyakit menular, pendidikan higiene
perseorangan, mengorganisir pelayanan medis, dan perawatan, agar dapat
dilakukan diagnosis dini dan pengobatan pencegahan, serta membangun mekanisme
sosial, sehingga setiap insan dapat menikmati standar kehidupan yang cukup baik
untuk dapat memelihara kesehatan (Slamet, 2004).
Berdasarkan
definisi kesehatan masyarakat di atas, maka masyarakat hanya akan sehat,
apabila setiap insan ikut serta menyehatkan dirinya sendiri serta
lingkungannya. Tanpa partisipasi masyarakat (termasuk para ahli), kesehatan
tidak akan tercapai (Slamet, 2004). Filosofi inilah yang selalu dipegang oleh
ahli kesehatan dalam menyelesaikan masalah-masalah kesehatan masyarakat.
ü Proses Terjadinya Penyakit
Pada dasarnya penyakit terjadi karena adanya
interaksi antara berbagai elemen yang saling mempengaruhi. Seorang dokter, John
Gordon, menggambarkan terjadinya penyakit pada masyarakat dalam sebuah model
yang pada akhirnya dinamakan sesuai dengan nama pencetusnya, yaitu Model
Gordon. Menurutnya, penyakit itu ditentukan oleh tiga faktor pengaruh, yaitu
(Fox,1970) :
·
Agent/penyebab
penyakit
Agent adalah faktor esensial yang harus ada
agar penyakit dapat terjadi. Agent dapat berupa benda hidup, tidak hidup, energi,
dan lain sebagainya, yang dalam jumlah berlebih atau kurang merupakan sebab
utama dalam terjadinya penyakit. Agent hidup atau agent yang terdiri atas benda
hidup seperti metazoa, fungi, protozoa, bakteri, rickettsia, dan virus
menyebabkan penyakit yang bersifat menular. Agent tak hidup dapat berupa zat
kimia, zat fisis, kekuatan mekanis, faktor fisiologis, faktor psikologis, dan
faktor turunan.
·
Host/pejamu
Host adalah populasi atau organisme yang
memiliki resiko untuk sakit. Element host ini sangat penting dalam proses
terjadinya penyakit ataupun dalam pengendaliannya, karena ia sangat bervariasi
keadaannya bila dilihat dari aspek sosial ekonomi budaya, keturunan, lokasi
geografis, dan lainnya. Host juga akan sangat menentukan kualitas lingkungan
yang ada dengan cara-cara perlakuan yang berbeda-beda sesuai dengan taraf
pengetahuan, sikap, dan budaya hidupnya.
Faktor penentu pada host dapat berupa
faktor-faktor yang dibawa atau sudah ada sejak lahir (usia, jenis kelamin,
bangsa, keluarga, daya tahan natural) juga faktor-faktor yang didapat setelah
dilahirkan (status kesehatan umum, status fisiologis, status gizi, pengalaman
sakit, stress/tekanan hidup, kekebalan, perilaku host, dan perilaku
lingkungan).
·
Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di
luar diri host, baik benda mati, benda hidup, nyata atau abstrak, seperti
suasana yang terbentuk akibat interaksi semua elemen tersebut, termasuk host
yang lain. Lingkungan dapat diklasifikasikan menjadi lingkungan udara
(atmosfer), lingkungan air (hidrosfer), lingkungan padat (litosfer), lingkungan
flora dan fauna (biosfer), dan lingkungan sosial (sosiosfer).
Dalam Model Gordon, A, H, dan L dianggap
sebagai tiga elemen utama yang berperan dalam interaksi yang menentukan keadaan
sehat atau sakit. Ia menggambarkan/memodelkan terjadinya penyakit sebagai
batang pengungkit yang mempunyai titik tumpu di tengah-tengahnya.
Dari kebudayaan yang paling luas yakni Babylonia, Mesir, Yunani dan
Roma telah tercatat bahwa manusia telah melakukan usaha untuk menanggulangi
masalah-masalah kesehatan masyarakat dan penyakit. Telah ditemukan pula bahwa
pada zaman tersebut tercatat dokumen-dokumen tertulis, bahkan
peraturan-peraturan tertulis yang mengatur tentang pembuangan air limbah atau
drainase pemukiman pembangunan kota, pengaturan air minum, dan sebagainya.
Pada zaman ini juga diperoleh catatan bahwa telah dibangun tempat
pembuangan kotoran (latrin) umum, meskipun alasan dibuatnya latrine tersebut
bukan karena kesehatan. Dibangunnya latri umum pada saat itu bukan karena tinja
atau kotoran manusia dapat menularkan penyakit tetapi tinja menimbulkan bau tak
enak dan pandangan yang tidak menyedapkan
Demikian juga masyarakat membuat sumur pada waktu itu dengan alasan
bahwa minum air kali yang mengalir sudah kotor itu terasa tidak enak, bukan
karena minum air kali dapat menyebabkan penyakit (Greene, 1984).
Kemudian pada permulaan abad pertama sampai kira-kira abad ke-7
kesehatan masyarakat makin dirasakan kepentingannya karena berbagai macam
penyakit menular mulai menyerang sebagian besar penduduk dan telah menjadi
epidemi bahkan di beberapa tempat telah menjadi endemi.
Upaya-upaya untuk mengatasi epidemi dan endemi penyakit-penyakit
tersebut, orang telah mulai memperhatikan masalah lingkungan, terutama hygiene
dan sanitasi lingkungan. Pembuangan kotoran manusia (latrin), pengusahaan air
minum yang bersih, pembuangan sampah, ventilasi rumah telah tercatat menjadi
bagian dari kehidupan masyarakat pada waktu itu.
Gambar 2 dan 3 merupakan
model-model yang menggambarkan untuk masing-masing perbedaan kondisi sehat dan
sakit tersebut.
Model pada Gambar 2 merupakan model di mana
pengungkit berada dalam kondisi seimbang. Ini artinya, bahwa masyarakat berada
dalam keadaan sehat. Sebaliknya, apabila resultan dari interaksi ketiga unsur
tadi menghasilkan keadaan yang tidak seimbang, maka diperoleh keadaan yang
tidak sehat atau sakit seperti yang digambarkan pada Gambar 3.
Keadaan ke-1 :
A memberatkan keseimbangan sehingga batang pengungkit
miring ke arah A. Pemberatan A terhadap keseimbangan diartikan sebagai
agent/penyebab penyakit mendapat kemudahan menimbulkan penyakit pada host,
misalnya terjadinya mutasi pada virus influenza.
Keadaan ke-2 :
H memberatkan keseimbangan, sehingga batang pengungkit
miring ke arah H. Keadaan seperti itu dimungkinkan apabila H menjadi lebih peka
terhadap suatu penyakit. Misalnya apabila proporsi jumlah penduduk balita
bertambah besar, maka sebagian besar populasi menjadi lebih peka terhadap
penyakit anak.
Keadaan ke-3 :
Ketidakseimbangan disebabkan oleh bergesernya titik
tumpu. Hal ini menggambarkan terjadinya pergeseran kualitas lingkungan sehingga
A memberatkan keseimbangan. Keadaan seperti ini berarti bahwa pergeseran
kualitas lingkungan memudahkan A memasuki tubuh H dan menimbulkan penyakit.
Contohnya, terjadinya banjir menyebabkan air kotor yang mengandung A berkontak
dengan masyarakat (H), sehingga A lebih mudah memasuki H yang kebanjiran.
Keadaan ke-4 :
Ketidakseimbangan terjadi karena pergeseran kualitas
lingkungan sedemikian rupa sehingga H memberatkan keseimbangan atau H
menjadi sangat peka terhadap A. Contohnya, terjadinya pencemaran udara.
B.
PENCEMARAN SUNGAI SEBAGAI PENYEBAB
MASALAH LINGKUNGAN
Penyebab masalahnya adalah Sumber
pencemaran air, misalnya pengerukan pasir, limbah rumah tangga, industri,
pertanian, pelebaran sungai, pertambangan minyak lepas pantai, serta kebocoran kapal
tanker pengangkut minyak. Tiap pencemaran mempunyai derajat pencemaran atau
tahap pencemaran yang berbeda didasarkan pada:
1. Konsentrasi zat pencemar
2. Waktu tercemarnya
3. Lamanya kontakantarabahanpencemardenganlingkungan.
Ciri-ciri Pencemaran Air yang baik
adalah air yang tidak tercemar secara berlebihan oleh zat-zat kimia atau
mineral terutama oleh zat-zat atau mineral yang berbahaya bagi kesehatan.
Adapun beberapa indikator bahwa air
sungai telah tercemar adalah sebagai berikut:
a.
Adanya perubahan suhu air. Air yang
panas apabila langsung dibuang ke lingkungan akan mengganggukehidupanhewanair
dan mikroorganisme lainnya.
b.
Adanya perubahan pH atau konsentrasi ion
Hidrogen. Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai
berkisar pH berkisar antara 6,5 – 7,5.
c.
Adanya perubahan warna, bau dan rasa
air. Air dalam keadaan normal dan bersih pada umumnya tidak akan berwarna,
sehingga tampak bening dan jernih, tetapi hal itu tidak berlaku mutlak,
seringkali zat-zat beracun justru terdapat pada bahan buangan industri yang
tidak mengakibatkan perubahan warna pada air. Timbulnya bau pada air lingkungan
secara mutlak dapat dipakai sebagai salah satu tanda terjadinya pencemaran.
Apabila air memiliki rasa berarti telah terjadi penambahan material pada air
dan mengubah konsentrasi ionHidrogen dan pH air.
d.
Timbulnya endapan, koloidal, bahan
terlarut. Bahan buangan yang berbentuk padat, sebelum sampai ke dasar sungai
akan melayang di dalam air besama koloidal, sehingga menghalangi masuknya sinar
matahari ke dalam lapisan air. Padahal sinar matahari sangat diperlukan oleh
mikroorganisme untuk melakukan fotosintesis.
e.
Adanya mikroorganisme. Mikroorganisme
sangat berperan dalam proses degradasi bahan buangan dari limbah industri
ataupun domestik. Bila bahan buangan yang harus didegradasi cukup banyak, maka
mikroorganisme akan ikut berkembangbiak. Pada perkembangbiakan mikroorganisme
ini tidak tertutup kemungkinan bahwa mikroba patogen ikutberkembangbiak pula
f.
Meningkatnya radioaktivitas air lingkungan.
Zat radioaktif dari berbagai kegiatan dapat menyebabkan berbagai macam
kerusakan biologis apabila tidak ditangani dengan benar, baik efek langsung
maupun efek tertunda.Limbah rumah tangga seperti deterjen, sampah organik, dan
anorganik memberikan andil cukup besar dalam pencemaran air sungai, terutama di
daerah perkotaan. Sungai yang tercemar deterjen, sampah organik dan anorganik
yang mengandung miikroorganisme dapat menimbulkan penyakit, terutama bagi
masyarakat yang mengunakan sungai sebagai sumber kehidupan sehari-hari. Proses
penguraian sampah dan deterjen memerlukan oksigen sehingga kadar oksigen dalam
air dapat berkurang. Jika kadar oskigen suatu perairaan turunsampai kurang dari
5 mg per liter, maka kehidupan biota air seperti ikan terancam.
Dampak Pencemaran kenaikan suhu air akan
menimbulkan beberapa akibat sebagai berikut:
a.
Jumlah oksigen terlarut didalam air menurun
b.
Kecepatan reaksi kimia meningkat
c.
Kehidupan ikan dan hewan air lainnya
terganggu
d.
Jika batas suhu yang mematikan terlampaui,
ikan dan hewan air lainnya mungkin akan mati Kandungan bahan kimia yang
terdapat di dalam air limbah dapat merugikan lingkungan melalui berbagai cara.
Bahan organik terlarut dapat
menghasilkan oksigen dalam limbah serta akan menimbulkan rasa dan bau yang
tidak sedap pada penyediaan air bersih, selain itu akan lebih berbahaya apabila
bahan tersebut merupakan bahan beracun.Adapun pencemaran air oleh minyak sangat
merugikan karena dapat menimbulkan hal-hal sebagai berikut :
a. Adanya
minyak menyebabkan penetrasi sinar kedalam air berkurang
b. Konsentrasi
oksigen terlarut menurun dengan adanya minyak karena lapisan film minyak
menghambat pengambilan oksigen oleh air.
c. Adanya
lapisan minyak pada permukaan air akan mengganggu kehidupan burung air, karena
burung-burung yang berenang dan menyelam bulu- bulunya akan ditutupi oleh
minyak sehingga menjadi lengket satu sama lain.
d. Penetrasi
sinar dan oksigen yang menurun dengan adanya minyak dapat mengganggu kehidupan
tanaman-tanaman Dampak yang ditimbulkan terhadap organisme adalah kematian,
atau akan mengalami kelainan genetik, menderita kanker dan sebagainya
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil OBSERVASI
Pencemaran
Sungai
Pencemaran air berarti masuknya material lain ke
dalam air sehingga mengurangi kualitas air dalam penggunaannya. Pencemaran air
ini meliputi juga pencemaran sungai. Padahal sungai merupakan suatu komponen
penting yang berperan dalam siklus hidrolgi.
Penyebab pencemaran sungai dapat berasal dari :
- Tingginya kandungan sedimen yang berasal dari erosi, kegiatan pertanian, penambangan, konstruksi, pembukaan lahan dan aktivitas lainnya
- Limbah organik dari manusia, hewan dan tanaman
- Kecepatan pertambahan senyawa kimia yang berasal dari aktivitas industri yang membuang limbahnya ke perairan.
Pencemaran sungai secara lebih lanjut dapat
menyebabkan blooming algae akibat
kelebihan nutrien fosfat yang ada di dalam sungai . Blooming algae membuat
kadar oksigen pada air menjadi rendah bahkan mencapai nol. Apabila terjadi blooming
algae, maka kehidupan biota di dalam sungai akan berkurang sehingga dapat
menghilangkan suatu ekosistem.Permasalahan lainnya, Cyanobakteria merupakan
alga yang mengeluarkan toksin yang juga beresiko bagi kesehatan manusia dan
hewan Oleh karena itu, apabila terjadi blooming algaemaka sungai tidak
dapat digunakan secara total.
Pemanfaatan
Air Sungai
Air sungai termasuk ke dalam air permukaan yang
banyak digunakan oleh masyarakat. Pada masyarakat pedesaan, air sungai masih
digunakan untuk mencuci, mandi, sumber air minum dan juga pengairan sawah.
Menurut Diana Hendrawan, “sungai banyak digunakan untuk keperluan manusia
seperti tempat penampungan air, sarana transportasi, pengairan sawah, keperluan
peternakan, keperluan industri, perumahan, daerah tangkapan air, pengendali
banjir, ketersedian air, irigasi, tempat memelihara ikan dan juga sebagai
tempat rekreasi” (Hendrawan 2005:13). Dalam kegiatan sehari-hari, masyarakat
menggunakan air sungai untuk hampir semua kegiatan rumah tangga. Mereka mencuci
baju dan piring, mandi, dan juga minum menggunakan air sungai.
Kondisi Kesehatan Warga Pengguna Air Sungai
Masyarakat
yang tinggal di sekitar sungai tentunya memanfaatkan sungai dalam kehidupan
sehari-hari mereka, baik mencuci, memasak, mandi maupun minum. Ketika mereka
menggunakan air sungai yang telah tercemar, tentu akan ada efek samping yang
dirasakan. Efek samping utama yang diterima oleh masyarakat ialah penyakit.
Penyakit yang terjadi umumnya ialah penyakit diare. Seperti
telah kita ketahui bersama orang dewasa normalnya buang air besar sebanyak satu
atau dua kali sehari, sedangkan pada penyakit diare ini, buang air besar lebih
sering yaitu lebih dari tiga kali sehari. Namun pada anak bayi frekuensi BAB
normal bisa lebih sering dari dewasa, maka jangan langsung mengira bayi diare
walaupun buang air besarnya lebih dari tiga kali. Frekuensi Normal Buang Air
Besar Bayi: Bayi usia 0 – 6 bulan (ASI): Sehari 1-7 kali atau bahkan hanya 1-2
hari sekali. Bayi usia 0 – 6 bulan (non-ASI): Sehari 3-4 kali atau sampai hanya
1-2 hari sekali. Usia di atas 6 bulan : Biasanya 3-4 kali sehari atau 2 hari
sekali. Jika sudah menginjak usia 4 tahun sama seperti dewasa.
Jika frekuensi BAB bayi Anda masih dalam rentang
diatas berarti normal, dengan catatan tidak disertai penurunan berat badan atau
gejala lain. Oleh karena itu, Diare adalah buang air besar dengan tinja encer
atau berair dengan frekuensi lebih sering dari biasanya (normalnya). Sehingga
orang yang mengalami diare akan lebih sering ke toilet untuk buang air besar
dengan volume feses yang lebih banyak dari biasanya. Diare dikenal juga dengan
istilah mencret. Penyakit Diare biasanya berlangsung beberapa hari dan sering
sembuh atau hilang tanpa pengobatan. Akan tetapi adapula penyakit diare yang
berlangsung selama berminggu-minggu atau lebih. Atas dasar itulah penyakit
diare digolongkan menjadi diare akut dan kronis. Diare Akut adalah diare yang
berlangsung kurang dari dua minggu. Sedangkan Diare Kronis adalah diare yang
berlangsung lebih dari 2 minggu. Gejala Diare Secara lebih lengkap, tanda dan
gejala yang biasanya menyertai penyakit diare antara lain: Buang air besar
encer dan sering Kram perut Nyeri perut Demam Darah dalam tinja Kembung
penyakit diare ilustrasi orang diare sampai pingsan Penyebab Diare Diare
terjadi ketika makanan dan cairan yang Anda makan berlalu terlalu cepat
dan/atau terlalu besar jumlahnya pada saluran pencernaan (usus). Secara normal,
usus besar akan menyerap cairan dari makanan yang Anda makan, dan meninggalkan
kotoran (tinja) yang setengah padat. Akan tetapi ketika cairan dari makanan
yang Anda makan tidak diserap, maka hasilnya adalah kotoran (feses) yang cair
atau encer. Diare
dapat terjadi akibat protozoa maupun bakteri. Umumnya diare disebabkan oleh
bakteri dalam air. Air yang kotor digunakan untuk mencuci sehingga bakteri
tertinggal di benda-benda yang kemudian digunakan oleh warga.
Tindakan
Penanggulangan untuk Mengatasi Dampak yang Terjadi
Kerusakan sungai yang semakin parah tentunya
meresahkan masyarakat sekitar, terutama bagi mereka yang secara langsung
memanfaatkan sungai. Pemerintah tentunya dapat melakukan konservasi sumber daya
air, sebagaimana yang tertulis pada Undang-Undang Sumber Daya Air. Dalam
Undang-Undang Sumber Daya Air, dijelaskan bahwa “konservasi sumber daya air
salah satunya dapat dilakukan melalui kegiatan pengelolaan kualitas air dan
pengendalian pencemaran air yang dilakukan dengan cara mengelola air sungai
yang baik dan benar”. Pengendalian pencemaran tersebut dilakukan dengan
mencegah masuknya benda-benda yang dapat mencemarkan sumber air terutama
sungai. Tujuan dari pengelolaan dan pengendalian pencemaran air ialah
mempertahankan serta mengembalikan kualitas air sehingga menjadi lebih baik .
Beberapa cara lain juga dilakukan untuk mencegah
masuknya benda-benda yang dapat mencemarkan sungai. Untuk pabrik-pabrik besar,
biasanya digunakan kolam indikator untuk mengetes apakah limbah yang akan
dibuang ke sungai mengandung zat kimia berbahaya atau tidak. Di dalam kolam
indikator tersebut dimasukkan ikan mas, yang nantinya akan bereaksi terhadap
air yang tercemar atau tidak. Ikan mas merupakan ikan yang cukup peka dan mudah
stress bila berada di lingkungan yang tidak baik. Dengan adanya ikan mas, dapat
diketahui dengan mudah apakah limbah yang dibuang berbahaya atau tidak.
Masuknya benda-benda yang mencemarkan sungai
biasanya juga disebabkan oleh adanya pemukiman di bantaran sungai. Fenomena ini
biasa terjadi di daerah perkotaan. Pemerintah kota diharapkan dapat melakukan
relokasi terhadap pemukiman ini, sehingga bantaran sungai dapat steril dari
pemukiman warga. Selain melakukan relokasi, pemerintah juga diharapkan
melakukan kegiatan pembersihan sungai dari sampah secara rutin. Sampah yang
mengendap di sungai tentunya akan mengurangi kualitas air sungai. Segala upaya
dapat saja dilakukan oleh pemerintah, namun cara mencegah pencemaran sungai
yang paling utama ialah dari dalam diri sendiri. Seseorang seyogyanya sadar untuk
tidak mencemari sungai, terutama dengan sampah. Sebagai warga masyarakat, kita
harus sadar akan lingkungan. Kita harus membiasakan diri untuk tidak membuang
sampah sembarangan, terutama membuang sampah ke sungai.
Masyarakat yang terlanjur terkena imbas dari
pencemaran air sungai tentunya tidak boleh dibiarkan begitu saja. Mereka yang
sudah terjangkit penyakit harus segera diperiksakan ke dokter. Banyak warga
yang biasanya menganggap remeh kondisi kesehatan mereka yang jelas sudah sakit.
Bila dibiarkan lebih lanjut, tentunya sakit yang diderita akan semakin parah.
Masyarakat juga harus dihimbau untuk tidak lagi menggunakan air yang sudah
tercemar. Untuk daerah-daerah yang rawan untuk terkena pencemaran air,
sebaiknya warga diberikan informasi untuk dapat mengidentifikasi air yang
tercemar secara sederhana. Cara tersebut diharapkan dapat mengurangi konsumsi
air tercemar lebih banyak lagi.
B. PEMBAHASAN
Berdasarkan segitiga Epidemiologi sebagai berikut :
a.
Penyebaran Kuman
Penyebaran kuman yang menyebabkan diare biasanya
menyebar melalui Fecal oral antara lain melalui makanan atau minuman yang
tercemar tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita. Beberapa
perilaku yang dapat menyebabkan penyebaran kuman enterik dan meningkatkan
risiko terjadinya diare, antara lain tidak memberikan ASI (Air Susu Ibu) secara
penuh 4/6 bulan pada pertama kehidupan, menggunakan botol susu, menyimpan
makanan masak pada suhu kamar, menggunakan air minum yang tercemar, tidak
mencuci tangan dengan sabun sesudah buang air besar atau sesudah membuang tinja
anak atau sebelum makan atau menyuapi anak, dan tidak membuang tinja dengan
benar.
b.
Faktor Penjamu
Faktor penjamu yang meningkatkan kerentanan terhadap
diare. Beberapa faktor pada penjamu yang dapat meningkatkan beberapa penyakit
dan lamanya diare yaitu tidak memberikan ASI sampai dua tahun, kurang gizi,
campak, immunodefisiensi , dan secara proporsional diare lebih banyak terjadi
pada golongan balita.
c.
Faktor Lingkungan dan Perilaku
Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang
berbasis lingkungan. Dua faktor yang
dominan, yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja. Kedua faktor ini akan
berinteraksi dengan perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat
karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku yang tidak sehat
pula, yaitu melalui makanan dan minuman, maka dapat menimbulkan kejadian diare.
Faktor-Faktor
yang Berhubungan dengan Penyakit Diare
a.
Faktor Sosio demografi
Demografi adalah
ilmu yang mempelajari persoalan dan keadaan perubahan-perubahan penduduk yang
berhubungan dengan komponenkomponen perubahan tersebut seperti kelahiran,
kematian, migrasi sehingga menghasilkan suatu keadaan dan komposisi penduduk
menurut umur dan jenis kelamin tertentu (Lembaga Demografi FE UI, 2000). Dalam
pengertian yang lebih luas, demografi juga memperhatikan berbagai karakteristik
individu maupun kelompok yang meliputi karakteristik sosial dan demografi,
karakteristik pendidikan dan karakteristik ekonomi. Karakteristik sosial dan
demografi meliputi: jenis kelamin, umur, status perkawinan, dan agama.
Karakteristik pendidikan meliputi: tingkat pendidikan. Karakteristik ekonomi
meliputi jenis pekerjaan, status ekonomi dan pendapatan (Mantra, 2000). Faktor
sosiodemografi meliputi tingkat pendidikan ibu, jenis pekerjaan ibu, dan umur
ibu.
a. Tingkat pendidikan
Jenjang
pendidikan memegang peranan cukup penting dalam kesehatan masyarakat.
Pendidikan masyarakat yang rendah menjadikan mereka sulit diberi tahu mengenai
pentingnya higyene perorangan dan sanitasi lingkungan untuk mencegah
terjangkitnya penyakit menular, diantaranya diare. Dengan sulitnya mereka
menerima penyuluhan, menyebabkan mereka tidak peduli terhadap upaya pencegahan
penyakit menular (Sander,2005).Masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan
lebih tinggi lebih berorientasi pada tindakan preventif, mengetahui lebih
banyak tentang masalah kesehatan dan memiliki status kesehatan yang lebih baik.
Pada perempuan, semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin rendah angka
kematian bayi dan kematian ibu (Widyastuti, 2005).
b. Jenis pekerjaan
b. Jenis pekerjaan
Karakteristik
pekerjaan seseorang dapat mencerminkan pendapatan, status sosial, pendidikan,
status sosial ekonomi, risiko cedera atau masalah kesehatan dalam suatu
kelompok populasi. Pekerjaan juga merupakan suatu determinan risiko dan
determinan terpapar yang khusus dalam bidang pekerjaan tertentu serta merupakan
prediktor status kesehatan dan kondisi tempatsuatupopulasibekerja
c. Umur ibu
Sifat
manusia yang dapat membawa perbedaan pada hasil suatu penelitian atau yang
dapat membantu memastikan hubungan sebab akibat dalam hal hubungan penyakit,
kondisi cidera, penyakit kronis, dan penyakit lain yang dapat menyengsarakan
manusia, umur merupakan karakter yang memiliki pengaruh paling besar. Umur
mempunyai lebih banyak efek pengganggu daripada yang dimiliki karakter tunggal
lain. Umur merupakan salah satu variabel terkuat yang dipakai untuk memprediksi
perbedaan dalam hal penyakit, kondisi, dan peristiwa kesehatan, dan karena
saling diperbandingkan maka kekuatan variabel umur menjadi mudah dilihat Umur
adalah variabel yang selalu diperhatikan di dalam penyelidikan-penyelidikan
epidemiologi. Angka-angka kesakitan maupun kematian di dalam hampir semua keadaan
menunjukkan hubungan dengan umur.
b.
Faktor lingkungan Sumber air minum
Air sangat
penting bagi kehidupan manusia. Di dalam tubuh manusia sebagian besar terdiri
dari air. Tubuh orang dewasa sekitar 55- 60% berat badan terdiri dari air,
untuk anak-anak sekitar 65% dan untuk bayi sekitar 80%. Kebutuhan manusia akan
air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci dan
sebagainya. Di negaranegara berkembang, termasuk Indonesia tiap orang
memerlukan air antara30-60literperhari. Di antara kegunaan-kegunaan air
tersebut, yang sangat penting adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu,
untuk keperluan minum dan masak air harus mempunyai persyaratan khusus agar air
tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi manusia (Notoatmodjo, 2003). Sumber air
minum utama merupakan salah satu sarana sanitasi yang tidak kalah pentingnya
berkaitan dengan kejadian diare. Sebagian kuman infeksius penyebab diare
ditularkan melalui jalur fekal oral. Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan
ke dalam mulut, cairan atau benda yang tercemar dengan tinja, misalnya air
minum, jari-jari 16 tangan, dan makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci
dengan air tercemar.
Menurut
Slamet (2002) macam-macam sumber air minum antara lain :
- Air permukaan adalah air yang terdapat pada permukaan tanah. Misalnya air sungai, air rawa dan danau.
- Air tanah yang tergantung kedalamannya bisa disebut air tanah dangkal atau air tanah dalam. Air dalam tanah adalah air yang diperoleh pengumpulan air pada lapisan tanah yang dalam. Misalnya air sumur, air dari mata air.
- Air angkasa yaitu air yang berasal dari atmosfir, seperti hujan dan salju.
Menurut Depkes RI (2000), hal - hal yang perlu diperhatikan dalam penyediaan air bersih adalah :
- Mengambil air dari sumber air yang bersih.
- Mengambil dan menyimpan air dalam tempat yang bersih dan tertutup serta menggunakan gayung khusus untuk mengambil air.
- Memelihara atau menjaga sumber air dari pencemaran oleh binatang, anak-anak, dan sumber pengotoran. Jarak antara sumber air minum dengan sumber pengotoran seperti septictank, tempat pembuangan sampah dan air limbah harus lebih dari 10 meter.
- Mengunakan air yang direbus.
- Mencuci semua peralatan masak dan makan dengan air yang bersih dan cukup.
Jenis tempat pembuangan tinja
Pembuangan
tinja merupakan bagian yang penting dari kesehatan lingkungan. Pembuangan tinja
yang tidak menurut aturan memudahkan terjadinya penyebaran penyakit tertentu
yang penulurannya melalui tinja antara lain penyakit diare. Menurut Notoatmodjo
(2003), syarat pembuangan kotoran yang memenuhi aturan kesehatan adalah :
- Tidak mengotori permukaan tanah di sekitarnya,
- Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya,
- Tidak mengotori air dalam tanah di sekitarnya,
- Kotoran tidak boleh terbuka sehingga dapat dipakai sebagai tempat lalat bertelur atau perkembangbiakan vektor penyakit lainnya,
- Tidak menimbulkan bau,
- Pembuatannya murah, dan
- Mudah digunakan dan dipelihara.
Menurut Entjang (2000), macam-macam tempat pembuangan tinja, antara lain:
- Jamban cemplung (Pit latrine) Jamban cemplung ini sering dijumpai di daerah pedesaan. Jamban ini dibuat dengan jalan membuat lubang ke dalam tanah dengan diameter 80 ± 120 cm sedalam 2,5 sampai meter. Jamban 18 cemplung tidak boleh terlalu dalam, karena akan mengotori air tanah dibawahnya. Jarak dari sumber minum sekurang-kurangnya 15 meter.
- Jamban air (Water latrine) Jamban ini terdiri dari bak yang kedap air, diisi air di dalam tanah sebagai tempat pembuangan tinja. Proses pembusukkanya sama seperti pembusukan tinja dalam air kali.
- Jamban leher angsa (Angsa latrine) Jamban ini berbentuk leher angsa sehingga akan selalu terisi air. Fungsi air ini sebagai sumbat sehingga bau busuk dari kakus tidak tercium. Bila dipakai, tinjanya tertampung sebentar dan bila disiram air, baru masuk ke bagian yang menurun untuk masuk ke tempat penampungannya.
- Jamban bor (Bored hole latrine) Tipe ini sama dengan jamban cemplung hanya ukurannya lebih kecil karena untuk pemakaian yang tidak lama, misalnya untuk perkampungan sementara. Kerugiannya bila air permukaan banyak mudah terjadi pengotoran tanah permukaan (meluap).
- Jamban keranjang (Bucket latrine) Tinja ditampung dalam ember atau bejana lain dan kemudian dibuang di tempat lain, misalnya untuk penderita yang tak dapat meninggalkan tempat tidur. Sistem jamban keranjang biasanya menarik lalat dalam jumlah besar, tidak di lokasi jambannya, tetapi di sepanjang perjalanan ke tempat pembuangan. Penggunaan jenis jamban ini biasanya menimbulkan bau.
- Jamban parit (Trench latrine) Dibuat lubang dalam tanah sedalam 30 - 40 cm untuk tempat defaecatie. Tanah galiannya dipakai untuk menimbunnya. Penggunaan jamban parit sering mengakibatkan pelanggaran standar dasar sanitasi, terutama yang berhubungan dengan pencegahan pencemaran tanah, pemberantasan lalat, dan pencegahan pencapaian tinja oleh hewan.
- Jamban empang / gantung (Overhung latrine) Jamban ini semacam rumah-rumahan dibuat di atas kolam, selokan, kali, rawa dan sebagainya. Kerugiannya mengotori air permukaan sehingga bibit penyakit yang terdapat didalamnya dapat tersebar kemana-mana dengan air, yang dapat menimbulkan wabah.
- Jamban kimia (Chemical toilet) Tinja ditampung dalam suatu bejana yang berisi caustic soda sehingga dihancurkan sekalian didesinfeksi.
Biasanya dipergunakan dalam kendaraan umum misalnya
dalam pesawat udara, dapat pula digunakan dalam rumah. Tempat pembuangan tinja
yang tidak memenuhi syarat sanitasi akan meningkatkan risiko terjadinya diare
berdarah pada anak balita sebesar dua kali lipat dibandingkan dengan keluarga
yang mempunyai kebiasaan membuang tinjanya yang memenuhi syarat sanitasi
(Wibowo, 20 2004). Menurut hasil penelitian Irianto (1996), anak balita yang
berasal dari keluarga yang menggunakan jamban yang dilengkapi dengan tangki
septik, prevalensi diare 7,4% terjadi di kota dan 7,2% di desa. Sedangkan
keluarga yang menggunakan kakus tanpa tangki septik 12,1% diare terjadi di kota
dan 8,9% di desa. Kejadian diare tertinggi terdapat pada keluarga yang
mempergunakan sungai sebagai tempat pembuangan tinja, yaitu 17% di kota dan
12,7 di desa.
Penularan
Diare
Penyakit diare sebagian besar(75%) disebabkan oleh
kuman seperti virus dan bakteri. Penularan penyakit diare melalui jalur fecal
oral yang terjadi karena:
a.
Melalui air yang sudah tercemar, baik tercemar dari
sumbernya, tercemar selama perjalanan sampai ke rumah-rumah, atau tercemar pada
saat disimpan di rumah. Pencemaran ini terjadi bila tempat penyimpanan tidak
tertutup atau apabila tangan yang tercemar menyentuh air pada saat mengambil
air dari tempat penyimpanan.
b.
Melalui tinja yang terinfeksi. Tinja yang sudah
terinfeksi, mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Bila tinja
tersebut dihinggapi oleh binatang dan kemudian binatang tersebut hinggap
dimakanan, maka makanan itu dapat menularkan diare ke orang yang memakannya Pada
usia 4 bulan, bayi tidak diberi ASI eksklusif lagi dimana ASI eksklusif adalah
pemberian ASI saja sewaktu bayi berusia 0-4 bulan. Hal ini akan menurunkan
risiko kesakitan dan kematian akibat diare karena ASI banyak mengandung zat-zat
kekebalan tubuh terhadap infeksi.
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pencemaran sungai akibat masuknya benda-benda yang
dapat mencemari seperti sampah, limbah dan zat kimia berbahaya tentunya
memberikan dampak yang buruk bagi masyarakat pengguna air sungai. Air sungai
biasa digunakan untuk kegiatan rumah tangga seperti mencuci, minum, mandi dan
memasak. Masyarakat sekitar yang menggunakan air tercemar kini menjadi mudah
terkena penyakit seperti diare, cacingan, gatal-gatal, serta penyakit kulit
lainnya. Penanggulanggan terhadap pencemaran air sungai bisa dilakukan dengan
konservasi sumber daya air, merelokasi rumah-rumah penduduk dibantaran sungai
serta penyadaran diri masing-masing untuk tidak mencemari sungai. Melalui
cara-cara tersebut, diharapkan dampak yang ditimbulkan dari sungai yang
tercemar dapat teratasi.
B. SARAN
Penggunaan air yang sudah
tercemar memberikan dampak yang merugikan bagi kesehatan manusia. Untuk itu
diharapkan masyarakat turut menjaga kebersihan sungai sehingga air sungai dapat
dimanfaatkan dengan baik tanpa menimbulkan kerugian bagi penggunanya